Menulis topik tentang ini mengingatkan saya pada pengalaman
saya di Sydney tahun 2013. Saat itu saya berada di Sydney selama satu minggu
untuk mengikuti sebuah workshop. Di sela-sela kegiatan, saya menyempatkan diri
untuk berjalan – jalan sendiri dari hotel ke Darling Harbour yang kebetulan lokasinya hanya
sekitar 15 menit berjalan kaki. Setelah cukup puas berjalan di sekitar Darling
Harbour, saya meneruskan perjalanan ke Sydney Opera House dengan menggunakan
water taxi, sejenis boat kecil yang membawa turis dari Darling Harbour ke
Sydney Opera House. Perjalan tersebut sifatnya bolak – bolak, artinya saya akan
diantar dan selanjutnya dijemput kembali ke Darling Harbour pada jam yang sudah
ditentukan. Saya turun di Sydney Opera House jam 16.00 dan dijanjikan akan
dijemput kembali pukul 17.00
Setelah puas melihat Sydney Opera House, saya kembali ke
tempat penjemputan pada jam yang telah ditentukan. Namun water taxi yang
dijanjikan belum datang, setelah 15 menit menunggu muncul juga rasa khawatir
saya.. Ada pikiran apakah saya ketinggalan, atau ada sebab lainnya. Akhirnya
saya menelpon operator water taxi tersebut, mereka minta maaf dan menerangkan
memang ada keterlambatan dan akan menjemput saya sekitar 10 menit berikutnya.
Sebenarnya menunggu 10-15 menit itu biasa saja, namun sore itu saya harus cepat
kembali di hotel karena ada janji makan malam bersama rombongan yang lain. Hal
ini membuat saya merasa agak cemas terlambat. Ditambah suasana pelabuhan di
Syney Opera House sudah sangat sepi ( saat itu hanya saya sendiri yang
menunggu) dan hari sudah mulai gelap… Cukup membuat kurang nyaman.
Akhirnya pada pukul 17.30 water taxi yang saya tunggu pun datang.
Cukup lega saya melihat taxi itu merapat ke dock dermaga. Taxi driver yang
kebetulan pria separuh baya itu meminta maaf karena datang terlambat. Saya bilang
kepadanya: “I’m glad that you come, I feel a bit of worry”. Dia tersenyum kepada saya dan
menjawab dengan logat Aussie yang kental : “It’s ok to feel a bit of worry in
life mate”
Ucapan taxi driver itu cukup menggelitik saya, dan membuat
saya teringat ungkapan itu sampai sekarang apabila merasa cemas dan membantu
kasus- kasus tentang gangguan cemas. Iya rasa cemas itu ok- ok saja kalau hanya
sedikit, kalau seperlunya. Bayangkan saja bila Anda mau mengejar jadwal pesawat
yang sudah mepet, tentu saja anda akan merasa khawatir. Ada kecemasan apabila
Anda terlambat dan tertinggal pesawat.. Wajar saja, yang penting adalah
bagaimana cara kita merespon perasaan tersebut. Bila kita mempersiapkan diri
dengan baik, mencari moda transportasi yng tercepat ke bendara, memikirkan
jalur yang terlancar untuk ke bandara, maka kita bisa mencapai bandara tepat
pada waktunya dan tidak akan tertinggal pesawat.
Contoh yang lain misalnya, seorang mahasiswa yang harus
menghadapi ujian dengan materi yang sangat banyak dan sulit tentu saja akan
merasa cemas. Namun apabila mahasiswa tersebut menyikapi rasa cemas tersebut
dengan respon posistif, belajar secara teratur dan sistematis dengan target
waktu tertentu, maka tantangan untuk bisa menguasi materi ujian yang banyak
tersebut malah akan menjadi pendorong untuk lebih cepat dan efektif dalam
menguasai materi ujian. Kecemasan yang sedikit malah menjadi pendorong dan semangat
untuk bisa mengatasi tantangan.
Kecemasan yang porsinya wajar justru membantu kita untuk
merespon dengan lebih baik dan memotivasi kita untuk menyelesaikan masalah . Kecemasan yang wajar justru membantu kita
untuk mencapai tujuan kita. Membuat kita mengantisipasi agar ketidak nyamanan
yang kita khawatirkan di masa yang akan datang tidak terjadi, malah digantikan
dengan keberhasilan
Kembali pada peristiwa tahun 2013 tersebut, saya tersenyum
sepanjang perjalanan pulang di water taxi. Saya juga cukup beruntung karena
tidak terlambat untuk acara makan malam yang sudah diagendakan sebelumnya.. “So
I think a bit of worry in life is OK, it’s normal”. Yang penting respon kita
yang mesti sesuai.. secukupnya. Pada bahasan selanjutnya akan saya diskusikan
tentang bahaya gangguan cemas yang berlebih dan bagaimana cara mengatasinya.


No comments:
Post a Comment