Monday, September 4, 2017

Rasa cemas itu normal


Menulis topik tentang ini mengingatkan saya pada pengalaman saya di Sydney tahun 2013. Saat itu saya berada di Sydney selama satu minggu untuk mengikuti sebuah workshop. Di sela-sela kegiatan, saya menyempatkan diri untuk berjalan – jalan sendiri dari hotel ke  Darling Harbour yang kebetulan lokasinya hanya sekitar 15 menit berjalan kaki. Setelah cukup puas berjalan di sekitar Darling Harbour, saya meneruskan perjalanan ke Sydney Opera House dengan menggunakan water taxi, sejenis boat kecil yang membawa turis dari Darling Harbour ke Sydney Opera House. Perjalan tersebut sifatnya bolak – bolak, artinya saya akan diantar dan selanjutnya dijemput kembali ke Darling Harbour pada jam yang sudah ditentukan. Saya turun di Sydney Opera House jam 16.00 dan dijanjikan akan dijemput kembali pukul 17.00

Setelah puas melihat Sydney Opera House, saya kembali ke tempat penjemputan pada jam yang telah ditentukan. Namun water taxi yang dijanjikan belum datang, setelah 15 menit menunggu muncul juga rasa khawatir saya.. Ada pikiran apakah saya ketinggalan, atau ada sebab lainnya. Akhirnya saya menelpon operator water taxi tersebut, mereka minta maaf dan menerangkan memang ada keterlambatan dan akan menjemput saya sekitar 10 menit berikutnya. Sebenarnya menunggu 10-15 menit itu biasa saja, namun sore itu saya harus cepat kembali di hotel karena ada janji makan malam bersama rombongan yang lain. Hal ini membuat saya merasa agak cemas terlambat. Ditambah suasana pelabuhan di Syney Opera House sudah sangat sepi ( saat itu hanya saya sendiri yang menunggu) dan hari sudah mulai gelap… Cukup membuat kurang nyaman.
Akhirnya pada pukul 17.30 water taxi yang saya tunggu pun datang. Cukup lega saya melihat taxi itu merapat ke dock dermaga. Taxi driver yang kebetulan pria separuh baya itu meminta maaf karena datang terlambat. Saya bilang kepadanya: “I’m glad that you come, I feel  a bit of worry”. Dia tersenyum kepada saya dan menjawab dengan logat Aussie yang kental : “It’s ok to feel a bit of worry in life mate”

Ucapan taxi driver itu cukup menggelitik saya, dan membuat saya teringat ungkapan itu sampai sekarang apabila merasa cemas dan membantu kasus- kasus tentang gangguan cemas. Iya rasa cemas itu ok- ok saja kalau hanya sedikit, kalau seperlunya. Bayangkan saja bila Anda mau mengejar jadwal pesawat yang sudah mepet, tentu saja anda akan merasa khawatir. Ada kecemasan apabila Anda terlambat dan tertinggal pesawat.. Wajar saja, yang penting adalah bagaimana cara kita merespon perasaan tersebut. Bila kita mempersiapkan diri dengan baik, mencari moda transportasi yng tercepat ke bendara, memikirkan jalur yang terlancar untuk ke bandara, maka kita bisa mencapai bandara tepat pada waktunya dan tidak akan tertinggal pesawat.
Contoh yang lain misalnya, seorang mahasiswa yang harus menghadapi ujian dengan materi yang sangat banyak dan sulit tentu saja akan merasa cemas. Namun apabila mahasiswa tersebut menyikapi rasa cemas tersebut dengan respon posistif, belajar secara teratur dan sistematis dengan target waktu tertentu, maka tantangan untuk bisa menguasi materi ujian yang banyak tersebut malah akan menjadi pendorong untuk lebih cepat dan efektif dalam menguasai materi ujian. Kecemasan yang sedikit malah menjadi pendorong dan semangat untuk bisa mengatasi tantangan.
Kecemasan yang porsinya wajar justru membantu kita untuk merespon dengan lebih baik dan memotivasi kita untuk menyelesaikan masalah .  Kecemasan yang wajar justru membantu kita untuk mencapai tujuan kita. Membuat kita mengantisipasi agar ketidak nyamanan yang kita khawatirkan di masa yang akan datang tidak terjadi, malah digantikan dengan keberhasilan
Kembali pada peristiwa tahun 2013 tersebut, saya tersenyum sepanjang perjalanan pulang di water taxi. Saya juga cukup beruntung karena tidak terlambat untuk acara makan malam yang sudah diagendakan sebelumnya.. “So I think a bit of worry in life is OK, it’s normal”. Yang penting respon kita yang mesti sesuai.. secukupnya. Pada bahasan selanjutnya akan saya diskusikan tentang bahaya gangguan cemas yang berlebih dan bagaimana cara mengatasinya.  


No comments:

Post a Comment