Friday, October 13, 2017

Jalan buntu, buldozer saja!


Pengalaman mengikuti konferensi tentang kegawat daruratan di Capetown, Afrika Selatan pada tahun 2015 mengenalkan saya pada tokoh yang sangat menarik, yaitu almarhum dokter Peter Safar. Beliau adalah seorang dokter keturunan Austria yang sangat berjasa di bidang kegawat daruratan serta mengenalkan tehnik Resusitasi Jantung Paru (RJP) untuk pertama kalinya di dunia tahun 1950an. Istilah awam yang kita kenal untuk RJP adalah ‘pernafasan buatan’, sedangkan terminologi (istilah) kerennya disebut  the kiss of life


Peter safar giving ‘the kiss of life’

Dokter Peter Safar dikenal sebagai seorang tokoh yang sangat gigih dalam mencapai tujuan dan cita-cita walau seberat apapun rintangan yang dihadapi. Dalam upaya mencapai tujuan yang kita inginkan, rintangan yang berat tersebut bahkan terkesan tidak mungkin untuk dilampau/ dicapai. Penyebabnya karena memang jalan ke sana terhalang oleh tembok yang sangat kokoh dan tinggi, tidak ada jalan alternatif, atau karena memang tidak ada jalan menuju ke sana !

Untuk mengatasi keadaan deadlock seperti di atas, dr. Peter Safar memperkenalkan filosofi dua tehnik jalan yang saya kagumi hingga sekarang.

1.     Buldozer tehnik
Sangat sederhana: bila temboknya terlalu tinggi untuk dipanjat, atau terlalu kokoh untuk dibongkar secara manual , maka Buldozer saja ! Pasti terbongkar juga jalan buntunya.




2.     Helikopter tehnik
Tehnik ini lebih advance lagi. Bila memang tidak ada jalan ke sana ya  kita naik helicopter untuk mencapai tempat tujuan kita!



Dua tehnik di atas memang terkesan agak hiperbola, atau berlebihan pada suasana yang umum. Tapi pada situasi deadlock (buntu) dengan tingkat urgensi tinggi, maka tehnik ini menjadi visible untuk digunakan. Filosofi yang coba saya terjemahkan dari dua tehnik di atas adalah pada saat menghadapi  jalan buntu, kita mesti mengerahkan segala kreatifitas, inovasi, serta sumber daya kita untuk bisa mencapai tujuan kita. Bila saat ini memang belum ada jalan menuju tujuan kita, tentu saja kita yang mesti membuat jalannya.

Sikap berpangku tangan, pasrah dan hanya mengeluh tidak pernah berguna dalam menghadapi suatu masalah. Setiap masalah harus diselesaikan, tujuan mulia harus bisa dicapai dengan segala daya upaya.  As Peter Safar quote: ‘It is up to us to save the world!’

Salam sehat dan bahagia



Thursday, October 12, 2017

Menggantungkan cita-cita yang tinggi dan melampaui rintangan.


Pada topik kali ini saya mencoba menjabarkan quote Presiden pertama Indonesia , Presiden Sukarno: “ Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang. ” Menarik bagi kita untuk memahami apa saja manfaat bila kita menggantung cita-cita dan harapan kita dengan tinggi.


Dalam hidup, kita dapat berbenturan dengan tembok tinggi, halangan, hambatan atau bentuk rintangan lainnya dalam upaya mencapai tujuan. Ada dua reaksi yang mungkin dilakukan: menyerah dan pasrah, atau berusaha untuk mengatasi halangan tersebut. Respon kita tergantung pada setinggi apa kita menggantungkan cita-cita kita dan bagaimana cara pandang kita terhadap terhadap halangan tersebut.

Apabila seseorang menggantungkan cita-citanya rendah, maka cita-cita tersebut mudah terhalang oleh tembok yang tinggi. Seseorang menjadi tidak termotivasi dan mudah berputus asa karena harapan yang di balik tembok tidak tampak olehnya. Ia akan menyatakan bahwa hambatan tersebut terlalu tinggi , kokoh,  sulit atau bahkan tidak mungkin untuk dilalui. Rasa putus asa ini yang menyebabkan seseorang menjadi pasrah, malas, selanjutnya menuju pada beban stress yang tinggi dan depresi.



Kita sering mendengar keluhan dari  orang lain bahwa mereka mentok, halangan terlalu tinggi, kurang modal, kurang keterampilan, sumbar daya tidak cukup, atau apapun alasan yang membuat mereka gagal dan tidak bisa menembus tembok rintangan. Rata- rata mereka punya satu kesamaan: “tidak bisa melihat harapan di balik tembok rintangan”.


Sebaliknya, apabila harapan dan cita- cita kita tersebut digantung tinggi, maka setinggi apapun tembok rintangan, maka cita cita kita masih dapat terlihat. Kemampuan melihat cita-cita yang tinggi membuat tetap termotivasi dan terus bergerak untuk melampaui tembok rintangan tersebut.


Caranya macam-macam: tembok rintangan bisa dipanjat, ditembus dengan palu, menggali terowongan dari bawah, cari jalan alternatif atau usaha apapun untuk bisa menembus rintangan di hadapan kita. Sebagai reminder di sini tentu saja cara yang kita pilih adalah cara- cara yang sesuai dengan norma agama, etika dan hukum.



Saya selalu bilang kepada Raisya puteri saya, “Raisya, orang pintar itu kalah dengan orang yang gigih." Kita bisa meraih apapun yang kita inginkan selama itu kita bersungguh – sungguh dalam cara pandang, ucapan dan perbuatan.” Sungguh beruntung apabila kita dapat menjadi manusia yang cerdas dan gigih dalam menggapai cita-cita.

Salam sehat dan bahagia.